Yogyakarta selalu punya daya tarik magis saat Ramadan tiba, terutama dengan suasana sore harinya yang khas dan penuh kehangatan. Namun belakangan ini, mulai muncul kritik soal Komersialisasi Ngabuburit di berbagai sudut kota gudeg yang dianggap sudah terlalu berlebihan. Tempat-tempat nongkrong kekinian hingga hotel berbintang berlomba-lomba bikin paket menu buka puasa dengan harga yang cukup mahal demi menarik minat anak muda dan turis. Sayangnya, kesan pamer dan gaya hidup mewah ini perlahan mulai menutupi kesederhanaan tradisi ngabuburit asli warga Jogja yang dulu cuma sekadar jalan-jalan santai sambil menunggu azan magrib.
Dulu, momen menunggu berbuka itu identik dengan berburu takjil murah di pasar kaget atau sekadar duduk-duduk di alun-alun sambil ngobrol ringan. Sekarang, akibat dari Komersialisasi Ngabuburit yang makin masif, fokus orang-orang malah lebih ke arah konten media sosial dan gengsi di tempat yang estetik. Banyak ruang publik yang dulunya gratis buat warga, kini dipenuhi oleh gerai-gerai komersial yang mengharuskan orang buat bayar mahal cuma buat duduk sebentar. Hal ini bikin sebagian warga asli merasa kalau Jogja sudah kehilangan sisi romantis dan merakyatnya demi kepentingan bisnis semata.
Dampak dari perubahan budaya ini bikin makna silaturahmi yang sebenarnya jadi sedikit bergeser ke arah konsumerisme. Masalah Komersialisasi Ngabuburit ini juga bikin jarak sosial makin terasa, antara mereka yang mampu bayar paket bukber mewah dan warga biasa yang cuma bisa lewat di depannya. Padahal, ruh dari Ramadan di Jogja itu adalah kebersamaan tanpa pandang bulu, di mana semua orang bisa menikmati suasana sore dengan cara yang paling simpel. Kalau semua sudut kota sudah berubah jadi ajang jualan tanpa mempedulikan nilai budaya, dikhawatirkan generasi muda Jogja nanti nggak kenal lagi sama aslinya tradisi leluhur mereka.
Beberapa komunitas pengamat budaya di Jogja mulai menyuarakan kegelisahan mereka soal pergeseran nilai ini ke pihak terkait. Meskipun Komersialisasi Ngabuburit bisa meningkatkan ekonomi daerah, tapi pengaturannya harus tetap menjaga kearifan lokal supaya nggak kebablasan. Perlu ada keseimbangan antara bisnis modern dengan upaya mempertahankan tradisi luhur yang selama ini bikin Jogja jadi tempat yang istimewa di hati banyak orang. Misalnya, dengan tetap memberikan ruang luas bagi pedagang kecil dan kegiatan keagamaan yang sifatnya sosial tanpa harus dipungut biaya yang nggak masuk akal.