Fenomena orang dewasa yang menekuni hobi masa kecil kini semakin populer dan dikenal luas dengan istilah tren kidulting di berbagai belahan dunia. Tidak lagi dipandang sebagai perilaku kekanak-kanakan, mengoleksi mainan seperti action figure, blok susun lego, hingga kartu permainan langka kini menjadi bagian dari gaya hidup urban yang memiliki pasar sangat besar. Banyak individu berusia 25 hingga 45 tahun yang tidak ragu menyisihkan sebagian penghasilan mereka untuk berburu barang koleksi yang memiliki nilai nostalgia tinggi maupun estetika yang unik bagi mereka.
Secara mendalam, terdapat alasan psikologis yang kuat mengapa tren kidulting begitu digemari oleh generasi pekerja saat ini. Salah satu alasan utamanya adalah sebagai bentuk coping mechanism atau mekanisme pelarian dari stres dan tekanan rutinitas dunia kerja yang melelahkan. Dengan menyentuh, merakit, atau sekadar memajang mainan, seseorang dapat merasakan kembali rasa aman dan kebahagiaan sederhana yang pernah dirasakan saat masa kecil. Aktivitas ini memberikan jeda mental yang diperlukan untuk menyegarkan pikiran sebelum kembali menghadapi tanggung jawab dewasa yang kompleks setiap harinya.
Selain itu, tren kidulting juga berkaitan erat dengan pemenuhan keinginan yang mungkin belum tercapai di masa lalu. Banyak orang dewasa saat ini tumbuh di lingkungan yang secara ekonomi belum mampu membeli mainan impian mereka. Ketika mereka telah memiliki kemandirian finansial, ada dorongan untuk “menyembuhkan” sisi anak kecil di dalam diri mereka (inner child) dengan memiliki barang-barang tersebut. Hal inilah yang membuat pasar mainan kolektor terus bertumbuh pesat, bahkan beberapa barang langka kini dianggap sebagai aset investasi yang nilai jualnya bisa meningkat berkali-kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.
Daya tarik dari tren kidulting juga terletak pada komunitasnya yang inklusif dan suportif. Di era digital, para kolektor dewasa dapat dengan mudah bertemu secara daring untuk bertukar informasi, melakukan transaksi jual-beli, atau sekadar memamerkan koleksi terbaru mereka. Interaksi sosial ini membangun rasa memiliki (sense of belonging) yang positif, di mana hobi tidak lagi hanya sekadar kepemilikan barang, melainkan juga tentang membangun relasi dengan orang lain yang memiliki minat serupa. Hal ini membuktikan bahwa bermain bukanlah aktivitas yang terbatas oleh usia.