Peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi kembalinya siklus La Niña pada akhir tahun ini menuntut semua pihak untuk Waspada Cuaca Ekstrem. Fenomena La Niña, yang dicirikan oleh pendinginan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, secara historis memicu peningkatan intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kesiapsiagaan daerah menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Tanpa persiapan yang matang, dampak Waspada Cuaca Ekstrem ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa dan infrastruktur, tetapi juga berpotensi merusak sektor pertanian yang menjadi fondasi bagi Kemandirian Finansial masyarakat.
BMKG dalam rilis resminya pada Jumat, 4 Oktober 2024, pukul 10.00 WIB, memprediksi bahwa puncak musim hujan yang diperkuat La Niña diperkirakan akan terjadi antara bulan Desember 2024 hingga Februari 2025. Daerah yang diprediksi paling rentan mengalami Waspada Cuaca Ekstrem dan curah hujan tinggi mencakup wilayah pesisir barat dan beberapa kawasan pegunungan. Kepala Pusat Data dan Informasi BMKG, Dr. Rina Agustina, M.Si., mengimbau pemerintah daerah untuk segera mengaktifkan posko siaga bencana. “Kami meminta Pemda untuk mengecek ulang kondisi tanggul penahan air, saluran drainase, dan melakukan mitigasi dini di zona rawan longsor, terutama di area yang kepadatan penduduknya tinggi,” kata Dr. Rina.
Menanggapi peringatan tersebut, Pemerintah Daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melakukan apel siaga pada Sabtu, 5 Oktober 2024. Kepala BPBD, Bapak Kolonel (Purn.) Wijaya Kusuma, memimpin langsung pengecekan kesiapan alat berat dan perahu karet di markas BPBD. Tim BPBD menargetkan penyelesaian pengerukan sedimen di 50 saluran air primer sebelum akhir November 2024. Selain itu, koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) juga ditingkatkan untuk memetakan titik-titik sumbatan kronis yang selalu menjadi pemicu banjir langganan.
Di sisi penegakan hukum dan ketertiban, pihak kepolisian sektor melalui Unit Sabhara telah menyiapkan personel untuk membantu proses evakuasi dan pengamanan aset warga saat terjadi bencana. Kapolsek setempat, AKP Dwi Santoso, S.I.K., M.H., menyatakan bahwa fokus mereka adalah menjamin kelancaran jalur evakuasi dan mencegah aksi penjarahan. “Kami siapkan tim untuk patroli di area yang terendam dan memastikan logistik bantuan tidak terhambat. Waspada Cuaca Ekstrem menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari semua pihak,” tegas AKP Dwi. Dengan upaya kesiapsiagaan yang terencana dan kolaborasi erat antara lembaga pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat, dampak buruk dari siklus La Niña dapat diminimalisir. Langkah proaktif ini sangat penting agar masyarakat dapat melindungi aset dan mata pencaharian mereka, sehingga cita-cita Kemandirian Finansial tidak tergerus oleh kerugian akibat bencana alam.